Selain bekal hati, seorang Mu'allimulqur'an butuh bekal ilmu: selalu meng-upgrade keilmuan, menguasai apa yang diajarkan, dan menjadi pendengar yang baik.
🔒 Khusus Murid Rattililqur'an
Materi Microteaching
Materi ini bagian dari pembinaan lanjutan bagi murid Rattililqur'an yang sedang berjuang dan berikhtiar mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an. Jika Anda ingin ikut belajar microteaching langsung dari pengajar kami — sekaligus tajwid dan tahsin lainnya — yuk bergabung bersama Rattililqur'an. Informasi Pendaftaran lewat Portal kami.
Masuk dengan akun Portal yang sama seperti login guru/murid Rattililqur'an.
0 dari 1 poin praktis sudah kamu terapkan
Selain bekal hati, seorang Mu'allimulqur'an butuh bekal ilmu: selalu meng-upgrade keilmuan, menguasai apa yang diajarkan, dan menjadi pendengar yang baik.
"Orang mukmin yang mahir membaca Al-Qur'an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Al-Qur'an dengan gagap, ia sulit dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala." (HR. Muslim no. 798)
Rujukan: HR. Muslim (no. 798) & HR. Al-Bukhari (no. 4937) dari 'Ā'isyah r.a.
02.02 — Berilmu Sebelum Mengajar (Bekal 08)
Seorang Mu'allimulqur'an harus berilmu tentang apa-apa yang diajarkannya, dan berdakwah dengan bashirah (ilmu/petunjuk yang jelas).
"Katakanlah: ‘Inilah jalan (agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’" (QS Yūsuf: 108)
Rujukan: QS Yūsuf 108
02.03 — Bahaya Mengajar Tanpa Ilmu (Bekal 08)
"Mengajar tanpa ilmu lebih besar mudharatnya daripada manfaatnya."
Poin praktis: Sebelum mengajarkan satu materi, pastikan Anda benar-benar memahaminya; jika belum, perbanyak belajar dan jangan ragu bertanya.
Dua atsar salaf menegaskan adab mendengarkan: ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ dan Sufyān Ats-Tsaurī bersedia menyimak kembali sesuatu yang sudah mereka ketahui demi menghormati pembicara.
"Sungguh, ada orang yang menceritakan kepadaku sebuah hadits, maka kudengarkan dia seolah aku belum pernah mendengarnya, padahal aku telah mendengarnya sebelum dia lahir." — "Sungguh, ada orang yang menceritakan kepadaku sebuah hadits yang aku telah mendengarnya sebelum ibunya melahirkannya, namun adab yang baik membuatku tetap mendengarkannya darinya."