RATTILILQUR'AN

Riyāḍat al-ḤurūfMateri Microteaching › 2 dari 8

Bab 1 — Niat, Adab & Ruhiyah (Bekal 01–06)

Bekal paling mendasar bagi seorang Mu'allimulqur'an adalah kondisi hati dan adab. Bekal 07–09 tentang ilmu dibahas di Bab 2.

🔒 Khusus Murid Rattililqur'an

Materi Microteaching

Materi ini bagian dari pembinaan lanjutan bagi murid Rattililqur'an yang sedang berjuang dan berikhtiar mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an. Jika Anda ingin ikut belajar microteaching langsung dari pengajar kami — sekaligus tajwid dan tahsin lainnya — yuk bergabung bersama Rattililqur'an. Informasi Pendaftaran lewat Portal kami.

Gabung di Portal Rattililqur'an

بَارَكَ اللهُ فِيكُمۡ

0 dari 2 poin praktis sudah kamu terapkan

Bekal paling mendasar bagi seorang Mu'allimulqur'an adalah kondisi hati dan adab. Bekal 07–09 tentang ilmu dibahas di Bab 2.

01.01 — Memohon Pertolongan Allah (Bekal 01)

Seorang Mu'allimulqur'an harus senantiasa memohon pertolongan Allah. Manusia pada hakikatnya selalu butuh pertolongan Allah dalam setiap urusannya — termasuk dalam mengajar.

Dalil (QS Fāṭir: 15)

يَٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." (QS Fāṭir: 15)

Rujukan: QS Fāṭir 15

01.02 — Allah Yang Memberi Pemahaman (Bekal 01)

Keberhasilan mengajar bukan pada kehebatan kita, melainkan karena Allah yang memberi pemahaman. Pengajar hanyalah perantara.

Dalil (QS Ar-Raḥmān: 1–2)

ٱلرَّحْمَٰنُ ١ عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ ٢

"Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) telah mengajarkan Al-Qur'an." (QS Ar-Raḥmān: 1–2)

Rujukan: QS Ar-Raḥmān 1–2

01.03 — Doa Nabi Musa Sebelum Berdakwah (Bekal 01)

Sebelum menghadapi Fir'aun, Nabi Musa 'alaihissalam berdoa memohon kelapangan dada, kemudahan urusan, dan kelancaran lisan. Ini teladan bagi pengajar: berdoalah sebelum mengajar.

Dalil (QS Ṭāhā: 24–28)

ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ٢٤ قَالَ رَبِّ ٱشْرَحْ لِي صَدْرِي ٢٥ وَيَسِّرْ لِيٓ أَمْرِي ٢٦ وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي ٢٧ يَفْقَهُوا قَوْلِي ٢٨

"Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dia (Musa) berkata: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.’" (QS Ṭāhā: 24–28)

Rujukan: QS Ṭāhā 24–28

01.04 — Meluruskan Niat Mengajar (Bekal 02)

Seorang Mu'allimulqur'an harus senantiasa meluruskan niatnya. Seluruh amal bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.

Dalil

Hadits ‘Umar bin Al-Khaṭṭāb ra. — Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia kejar atau wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju." (HR Bukhari & Muslim — أخرجه الشيخان)

01.05 — Waspada Terhadap Riya (Bekal 02)

Riya adalah perkara yang lebih ditakuti Nabi Muhammad ﷺ daripada fitnah Dajjal; riya dapat menjerumuskan pelaku kebaikan ke dalam Neraka; riya adalah syirik kecil.

Poin praktis: Selalu periksa niat sebelum mengajar: apakah Anda mengajar karena Allah semata, atau ingin dipuji dan dilihat orang?

Rujukan: HR. Ahmad (no. 23680) & Al-Baihaki dalam Syu'ab al-Imān dari Maḥmūd bin Labīd r.a.

01.06 — Dahsyatnya Ikhlas & Bahaya Riya (Bekal 02)

Bagian ini membahas tiga contoh nyata tentang keikhlasan dan niat: pengaruh niat dalam menyusui, bahaya niat dalam peperangan, dan keutamaan niat saat istirahat. Poinnya: niat yang ikhlas mengubah nilai amal, sedangkan niat yang buruk merusaknya.

Dalil (perkataan Imam As-Syafi‘i)

فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي

"Aku mengharap pahala pada tidurku sebagaimana aku mengharap pahala pada qiyamku (ibadah malamku)."

💡 3 Contoh Kedahsyatan Niat (Ikhlas vs Riya)

🍼 Niat Menyusui

Ibu yang menyusui dengan niat ibadah & menjaga amanah Allah mendapatkan pahala dalam setiap tetesnya.

⚔️ Perang karena Riya

Hadits *pembunuh & yang dibunuh masuk neraka* (HR. Bukhari-Muslim) — karena keduanya berperang atas dasar ego & kesombongan.

🌙 Tidur yang Bernilai Ibadah

Atsar Mu'adz bin Jabal r.a.: "Aku mengharap pahala pada tidurku sebagaimana aku mengharap pahala pada ibadah malamku."

Rujukan: Atsar Mu'ādz bin Jabal r.a. (Musannaf Ibnu Abī Syaibah) & Perkataan Imam Asy-Syafi'ī

01.07 — Mendoakan Murid-Murid Halaqah (Bekal 03)

Hendaknya seorang Mu'allimulqur'an senantiasa mendoakan murid-muridnya. Nabi Muhammad ﷺ sering mendoakan sahabatnya (murid-muridnya), dan beliau tetap mendoakan kebaikan kepada penduduk Thaif (yang pernah menolak dakwahnya).

Poin praktis: Biasakan mendoakan murid — sebut nama mereka dalam doa; doakan juga murid yang sulit, sebagaimana Rasulullah ﷺ tetap mendoakan penduduk Thaif.

Rujukan: HR. Bukhari (no. 3231) & Muslim (no. 1795) — Doa Kelembutan Rasulullah ﷺ

01.08 — Bersabar Menghadapi Slow Learner (Bekal 04)

Pengajar harus bersabar terhadap murid yang lambat memahami (slow learner). Ada kisah Imam As-Syafi‘i dan Ar-Rabi‘ bin Sulaiman sebagai teladan kesabaran. Allah menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang yang bersabar.

Dalil (QS Az-Zumar: 10)

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah (Muhammad): ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS Az-Zumar: 10)

Rujukan: QS Az-Zumar 10

🎯 Simulasi Keputusan Pengajar

Studi Kasus 01: Menghadapi Murid Yang Lambat Memahami (Slow Learner)

Seorang murid senior di halaqah Anda sudah mencoba mengulangi hukum tajwid 3 kali namun tetap kesulitan. Suasana halaqah mulai menghening. Apa tindakan terbaik Anda sebagai pengajar Mu'allimulqur'an?

01.09 — Kasih Sayang & Rendah Hati (Bekal 05)

Rasulullah ﷺ memperlakukan muridnya dengan lembut dan penuh kasih sayang — sebagaimana sabda beliau kepada Ibn ‘Abbās: "Wahai anakku, aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat..."

Dalil

Dari Abī Al-‘Abbās ‘Abdillāh bin ‘Abbās ra., ia berkata: "Aku pernah berada di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: (يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ...) — ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu...’"

Rujukan: HR. At-Tirmidzi (no. 2516) & Ahmad (no. 2669) — Wasiat Rasulullah ﷺ kepada Ibnu 'Abbās r.a.

01.10 — Memotivasi Murid Walau Sepatah Kata (Bekal 06)

Motivasi tidak harus panjang; sepatah kata yang tulus sudah cukup. Berikut adalah tiga kalimat motivasi klasik yang dapat dipakai sebagai sapaan penyemangat murid.

Tiga Kalimat Motivasi Perjuangan Ilmu

اذْهَبْ أَنْتَ يَا إِمَامَ الْحَرَمَيْنِ!

"Pergilah engkau, wahai Imam Haramain (dua tanah suci)!"

مَنْ يُنَشِّطُ مِنْكُمْ لِجَمْعِ الصَّحِيحِ؟

"Siapa di antara kalian yang bersemangat mengumpulkan hadits shahih?"

أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الْفِقْهِ؟

"Di mana posisimu dalam ilmu fiqih?"

🔥 3 Kalimat Motivasi Pengajar Al-Qur'an

🏛️ Imam Haramain

"Pergilah engkau, wahai Imam Haramain (dua tanah suci)!" — Menumbuhkan keagungan niat dakwah.

📜 Imam Bukhari

"Siapa di antara kalian yang bersemangat mengumpulkan hadits shahih?" — Menyalakan cita-cita perjuangan ilmu.

⚖️ Penuntut Fiqih

"Di mana posisimu dalam ilmu fiqih?" — Mengingatkan pentingnya kedalaman pemahaman.

Rujukan: Tārīkh Baghdād (Al-Khaṭīb Al-Baghdādī) & Siyar A'lām An-Nubalā' (Imam Adz-Dzahabi)

01.11 — Kebutuhan Pengajar Pada Istighfar

Kebutuhan seorang Mu'allimulqur'an untuk beristighfar lebih besar daripada kebutuhan lainnya. Rasulullah ﷺ beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari, dan dalam satu majelis beliau mengucapkan "Rabbighfir lī wa tub 'alayya" hingga seratus kali.

Dalil

a. وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

"Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR Bukhari no. 6307)

b. رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (HR Abu Dawud no. 1516 — diucapkan Rasulullah ﷺ hingga 100 kali dalam satu majelis)

Rujukan: HR. Bukhari (no. 6307) & HR. Abu Dawud (no. 1516) — Istighfar Nabi ﷺ

01.12 — Keutamaan Merutinkan Istighfar

Siapa yang merutinkan istighfar, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, ketenangan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.

Dalil

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Siapa yang rutin beristighfar, maka Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesempitan dan ketenangan dari setiap kesedihan, dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka."

Rujukan: HR. Abu Dawud (no. 1518) & HR. Ibnu Mājah (no. 3819) dari Ibnu 'Abbās r.a.

01.13 — Doa Penutup Majelis (Kaffāratul Majlis)

Ketika mengakhiri majelis — termasuk majelis pengajaran — Rasulullah ﷺ mengucapkan doa yang menjadi penambal kesalahan dalam majelis.

Dalil

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasulullah ﷺ mengucapkan di akhir majelis sebelum berdiri:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

"Maha Suci Engkau Ya Allah, dan segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

Rasulullah ﷺ bersabda: "Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majelis." (HR Abu Dawud no. 4857; Ahmad 4:425)

Rujukan: HR. Abu Dawud (no. 4857) & HR. At-Tirmidzi (no. 3433) — Doa Kaffāratul Majelis

← Semua Bab Materi Microteaching