Masuk dengan ID dan password Portal Rattililqur'an.
0 dari 6 poin sudah diterapkan0%
Bab ini membahas beberapa keutamaan para pembaca dan penghafal Al-Qur'an. Menunjukkan kecerdasan Imam an-Nawawi memilih poin-poin penting untuk dicantumkan di dalam buku ini, walaupun masih banyak dalil-dalil lain yang beliau ketahui namun tidak beliau cantumkan.
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi, agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah dari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Mensyukuri."
QS. Fathir: 29–30
Penjelasan
Imam an-Nawawi membuka bab ini dengan ayat Fathir 29-30. Tiga amalan disebutkan: tilawah, shalat, dan infak — ketiganya mengharapkan "perdagangan yang tidak rugi". Allah menutup dengan dua nama-Nya: Ghafur dan Syakur.
Tilawah artinya membaca. Tingkatan tilawah ada tiga:
a) Tilawah Harfiyah/Lafdziyah — membaca dengan baik dan benar sesuai tajwid, makhraj, dan sifat huruf.
b) Tilawah Maknawiyah — membaca dengan mengetahui arti dan tafsir ayat yang dibaca.
c) Tilawah Hukmiyah — level tertinggi: membaca lalu menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, dan mengimani kabarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
HR. Bukhari no. 5027 · dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu
Penjelasan
Hadits ini adalah hadits pertama yang dicantumkan Imam an-Nawawi dalam bab keutamaan hamalatulqur'an. Predikat "sebaik-baik kalian" adalah penghargaan tertinggi dari Nabi ﷺ.
Catatan dari Pengajar
Hadits ini menyebut dua hal sekaligus: ta'allum (belajar) dan ta'lim (mengajarkan). Keduanya tidak terpisah.
Atsar Sufyan Ats-Tsauri (diriwayatkan dari Abdul Hamid al-Himami): ketika ditanya mana yang lebih utama antara berperang dan membaca Al-Qur'an, beliau menjawab: "Membaca Al-Qur'an — karena Nabi ﷺ bersabda: sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Predikat "terbaik dari yang terbaik" jatuh kepada mereka yang istiqamah belajar sekaligus mengajarkan Al-Qur'an — bukan hanya salah satunya.
"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti utrujjah — baunya harum dan rasanya lezat. Mukmin yang tidak membaca seperti tamrah (kurma) — tiada bau namun rasanya manis. Munafik yang membaca seperti raihanah — baunya harum namun rasanya pahit. Munafik yang tidak membaca seperti handzalah — tiada bau dan rasanya pahit."
HR. Bukhari no. 5020, Muslim no. 797 · dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu (muttafaqun 'alaih)
Penjelasan
Rasulullah ﷺ mengumpamakan — hadits Abu Musa al-Asy'ari (Muttafaqun 'alaih)
Hadits ini mengelompokkan manusia menjadi empat berdasarkan iman dan tilawah. Posisi terbaik: mukmin yang rajin membaca Al-Qur'an.
"Orang yang mahir membaca Al-Qur'an akan bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan terasa berat atasnya, ia mendapat dua pahala."
HR. Bukhari no. 4937, Muslim no. 798 · dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha (muttafaqun 'alaih)
FaedahYang belum lancar tidak perlu berkecil hati — kesulitan saat belajar membaca justru berbuah dua pahala: pahala membaca dan pahala kesungguhannya. Yang penting terus berlatih hingga mahir.
Saya ingin menjadi seperti utrujjah — mukmin yang rajin membaca dan mengamalkan Al-Qur'an sehingga bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
01.04 — Hadits 3: Tidak Ada Hasad Kecuali Pada Dua Orang
"Tidak ada hasad kecuali pada dua orang: seorang yang diberi Allah Al-Qur'an lalu ia membacanya siang dan malam; dan seorang yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya siang dan malam."
HR. Bukhari no. 7528, Muslim no. 815 · dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma
"Tidak ada hasad kecuali pada dua orang: seorang yang diberi Allah harta lalu ia menggunakannya dalam kebenaran; dan seorang yang diberi Allah hikmah (Al-Qur'an) lalu ia memutuskan dengannya dan mengajarkannya."
HR. Bukhari no. 1409, Muslim no. 816 · dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Penjelasan
Hasad = menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain — haram.
Ghibthah = melihat nikmat pada orang lain dan mendorong diri untuk berlomba mendapatkannya — terpuji.
Arti "Hasad" pada haditsYang dimaksud di sini sebenarnya adalah ghibthah — berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini untuk menunjukkan betapa mulianya golongan yang memiliki Al-Qur'an dan mengamalkannya.
Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu memiliki niat baik walau belum mampu merealisasikannya. Beliau menekankan ghibthah kepada dua golongan tadi — bukan kepada mereka yang dibukakan perhiasan dunia, atau yang punya jabatan dan popularitas namun menyalahgunakannya.
Dalil Pendukung — Perumpamaan Empat Golongan
"Perumpamaan umat ini seperti empat orang: (1) orang yang Allah beri harta dan ilmu, lalu ia beramal dengan ilmunya pada hartanya dan menginfakkannya di jalan yang benar; (2) orang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu ia berkata dengan jujur: 'Seandainya aku punya harta seperti dia, niscaya aku berbuat seperti yang ia perbuat' — maka keduanya sama dalam pahala. Sebaliknya, (3) orang berharta tanpa ilmu yang menghambur-hamburkan hartanya bukan pada haknya, dan (4) orang yang berangan-angan seperti golongan ketiga — keduanya sama dalam dosa."
HR. Ahmad · dari Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu 'anhu
Dalil Pendukung — Siapa yang Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan
"Barangsiapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, Allah cerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tak mendatanginya kecuali sekadar yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah kumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk."
HR. Ibnu Majah no. 4105 · dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu
Fokus Ghibthah yang BenarYang diperlombakan bukan kebebasan berbelanja, jalan-jalan, rumah dan kendaraan mewah — melainkan kebermanfaatan untuk orang lain dan untuk akhirat: beribadah dengan ilmu dan dengan harta.
"Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf — tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."
Rabb Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Barangsiapa disibukkan oleh Al-Qur'an dan dzikirnya dari memohon kepada-Ku, Aku berikan kepadanya yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon. Dan keutamaan kalam Allah atas seluruh kalam adalah seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya."
HR. Tirmidzi no. 2926 (hasan) · dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu
Penjelasan
Faedah Hadits
Waktu yang habis bersama Al-Qur'an tidak terbuang sia-sia — justru detik-detik terbaik adalah yang dihabiskan bersamanya.
Menyibukkan diri dengan Al-Qur'an, membaca dan menadabburinya, termasuk seagung-agung amalan.
Hadits ini bukan anjuran meninggalkan doa kepada Allah — melainkan kabar gembira bagi yang begitu sibuk dengan Al-Qur'an.
Siapa yang ingin hajat-hajatnya ditunaikan, hendaklah memperbanyak bacaan Al-Qur'an — Allah sendiri yang menjamin memberi yang terbaik.
Hadirkan kesadaran: saat membaca Al-Qur'an, kita sedang membaca perkataan terbaik yang ada di muka bumi.
Kalam Allah lebih utama dari seluruh kalam — seperti keutamaan Allah atas seluruh makhluk-Nya.
Dalil Pendukung — Al-Qur'an Menjadi Pemberi Syafa'at
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para sahabatnya (yang membaca, menghafal, dan mengamalkannya)."
HR. Muslim no. 804 · dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu
Teladan Salaf — Sibuknya Mereka dengan Al-Qur'an
Qatadah mengkhatamkan Al-Qur'an setiap 7 hari; di bulan Ramadhan setiap 3 hari; dan pada sepuluh malam terakhir, setiap malam. (Siyar A'lam an-Nubala' 5/276)
Imam asy-Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an 60 kali sepanjang Ramadhan — dan menurut Ibnu Abi Hatim, khataman itu dilakukan di dalam shalat. (Siyar A'lam an-Nubala' 10/36)
01.07 — Hadits 6: Hati Tanpa Al-Qur'an Seperti Rumah Roboh
"Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun dari Al-Qur'an, maka (ia) seperti rumah yang roboh."
HR. Tirmidzi no. 2913 (hasan shahih) · dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
Penjelasan
Renungan: rumah roboh — penggambaran hati yang kosong dari Al-Qur'an
Rumah yang roboh tidak memberi kenyamanan, ketenangan, atau perlindungan bagi penghuninya. Demikian pula hati yang kosong dari Al-Qur'an.
Catatan SanadSyaikh Salim bin 'Id al-Hilali menilai sanad hadits ini dha'if karena adanya Qabus bin Abi Zhabyan (layyinul hadits). Meski demikian, kandungan maknanya dikuatkan banyak dalil lain tentang keutamaan menjaga Al-Qur'an di dalam dada.
Faedah Hadits
Al-Qur'an menjadi tolok ukur kebaikan dan berfungsinya anggota tubuh maupun jiwa seseorang.
Yang dimaksud hadits: orang yang tidak menghafal sedikit pun dari Al-Qur'an.
"Seperti rumah yang roboh" maksudnya: tidak memiliki kebaikan dan ketenangan.
Hadits ini memotivasi untuk membaca, menghafal, dan mempraktikkan Al-Qur'an.
Al-Qur'an adalah nutrisi bagi jiwa dan raga.
Renungan RinganRumah yang tidak layak huni — berantakan, genteng bocor, tembok berjamur, atap lapuk, sampah berserakan — akan mempengaruhi kondisi hati penghuninya: mental terganggu, istirahat tidak nyaman, ibadah tidak khusyu'. Begitulah kondisi jiwa yang tak berinteraksi dengan Al-Qur'an.
Dalil Pendukung — Rumah yang Lapang, Sebab Kebahagiaan
"Di antara kebahagiaan seorang muslim adalah: tempat tinggal yang lapang, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman."
HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 116 · dari Nafi' bin Abdul Harits radhiyallahu 'anhu
Terkadang kita lebih sibuk memberi makan raga — memikirkan menu di meja makan setiap hari, lebih khawatir bila anak tak mau makan daripada bila ia tak mau membaca Al-Qur'an. Padahal nutrisi jiwa jarang terpikirkan. Semoga kegelisahan terbesar kita seperti yang ditanyakan Nabi Ya'qub 'alaihissalam kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" (QS. Al-Baqarah: 133)
Pesan PenutupJika kita merasa galau dan jiwa kita lelah — bergegaslah membaca Al-Qur'an, di dalam maupun di luar shalat. Semakin kita jauh, semakin galau; semakin menghindar dari halaqah, semakin lebar pintu kesedihan terbuka. "Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu agar kamu menjadi susah." (QS. Thaha: 2)
01.08 — Hadits 7: Bacalah dan Naiklah — Derajat di Surga
"Dikatakan kepada sahabat Al-Qur'an: 'Bacalah dan naiklah, tartillah sebagaimana kamu mentartilkan di dunia — karena kedudukanmu (di surga) di akhir ayat yang kamu baca'."
HR. Abu Dawud no. 1466, Tirmidzi no. 2914 (hasan shahih) · dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma
Penjelasan
Faedah Hadits
Bersahabat dengan Al-Qur'an adalah ikatan persahabatan terkuat — abadi hingga akhirat, bukan hanya di dunia.
Istilah "sahabat Al-Qur'an" (shahibul Qur'an) yang disebut dalam matan — definisinya lihat dalil pendukung di bawah.
Bacaan dan hafalan seseorang di dunia menjadi salah satu tolok ukur tingginya derajat di surga.
Tartil bukan sekadar teknis — ia menjadi sebab naiknya derajat di akhirat.
Tingginya derajat tidak hanya ditentukan banyaknya hafalan — ada banyak pintu kebaikan yang mengangkat derajat di surga.
"Sesungguhnya perumpamaan sahabat Al-Qur'an seperti pemilik unta yang terikat: jika ia menjaga dan merawatnya, ia akan tetap diam; dan jika ia melepaskannya, unta itu akan pergi."
HR. Bukhari no. 5031, Muslim no. 789 · dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma (muttafaqun 'alaih)
Siapa "Sahabat Al-Qur'an"?"Yaitu mereka yang senantiasa menyertai Al-Qur'an, memperbanyak membacanya, akrab dengannya, lisannya terbiasa dengannya; tidak berlalu suatu waktu atasnya kecuali ia rindu kepadanya atau sedang bersamanya. Al-Qur'an telah menjadi penghibur, kelezatan, dan manisnya hidup baginya." — Syaikh Ahmad Khalil Syahin
Saya membaca dengan tartil dan memperbanyak hafalan — karena kedudukan saya di surga ditentukan oleh ayat terakhir yang saya baca.
01.09 — Hadits 8: Mahkota Kemuliaan untuk Orang Tua
"Barang siapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isinya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkan (Al-Qur'an) itu sendiri?!"
HR. Abu Dawud no. 1453 · dari Mu'adz bin Anas al-Juhani radhiyallahu 'anhu
Penjelasan
Hadits ini diakhiri dengan pertanyaan yang menggugah: "bagaimana dengan yang mengamalkannya sendiri?" — isyarat bahwa pahala si pembaca dan pengamal jauh lebih besar lagi.
Faedah Hadits
Membaca Al-Qur'an adalah salah satu syarat meraih keberkahannya.
Bentuk bakti terbesar anak kepada orang tua: membaca dan mengamalkan Al-Qur'an.
Balasan bakti ini tidak hanya di dunia — penghormatan bagi orang tua diraih kelak di akhirat.
Perjuangkan selagi masih ada kesempatan.
Saya membaca dan mengamalkan Al-Qur'an sebagai bentuk bakti kepada orang tua — agar mereka mendapat mahkota kemuliaan di akhirat.
"Bacalah Al-Qur'an — karena Allah tidak akan menyiksa hati yang menjaga Al-Qur'an. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah jamuan Allah; siapa yang masuk ke dalamnya maka ia aman. Dan siapa yang mencintai Al-Qur'an, maka berbahagialah."
HR. Ad-Darimi · dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Penjelasan
Hadits penutup bab ini mengandung tiga jaminan Allah: hati tidak disiksa, aman dalam "jamuan" Allah, dan kabar gembira bagi pencintanya.
Faedah Hadits
Membaca Al-Qur'an adalah salah satu cara meraih ketenangan hati yang sejati.
Tersiksanya hati jauh lebih berat daripada tersiksanya fisik — makin jauh dari Al-Qur'an, makin sakit.
Jamuan yang hakiki umumnya kaya rasa dan memberi tenaga bagi yang menyantapnya dengan lahap.
Begitulah Al-Qur'an — memberi rasa dan warna pada setiap episode hidup, menjadi sumber tenaga dan semangat jiwa.
Bagaimana agar kita mencintai Al-Qur'an? Cinta butuh perjuangan dan pengorbanan.
Penutup Bab ISembilan hadits dan satu ayat dari Imam an-Nawawi — semuanya bermuara pada satu pesan: jadikan Al-Qur'an bagian dari hidupmu. Bukan hanya dibaca, tapi dihidupi.
Saya menjadikan Al-Qur'an sebagai jamuan utama jiwa — masuk ke dalamnya setiap hari agar aman, tenang, dan bersemangat.