Bab 03 Memuliakan Ahlul Qur'an & Larangan Menyakiti Mereka
في إكرام أهل القرآن والنهي عن إيذائهم — Imam an-Nawawi membangun bab ini dari keumuman empat ayat, lalu menempatkan ahlul Qur'an sebagai contoh yang paling utama di dalamnya.
Khusus Murid Rattililqur'an
Akses Terbatas
Halaman ini eksklusif untuk murid dan guru Rattililqur'an. Masuk dengan akun Portal untuk membuka materi.
Masuk dengan ID dan password Portal Rattililqur'an.
0 dari 4 poin sudah diterapkan0%
Bab ketiga membahas ikrām ahlil Qur'an — memuliakan orang-orang yang mengemban Al-Qur'an — sekaligus larangan menyakiti mereka. Materinya padat: empat ayat pembuka, lalu sederet hadits dan atsar. Cara berdalilnya adalah istidlāl bil-'umūm: mengambil dalil dari keumuman ayat tentang mengagungkan kehormatan & syiar Allah dan tentang berlemah-lembut kepada mukmin, lalu menempatkan ahlul Qur'an sebagai instansi yang paling utama di dalamnya. Sesi ini fokus pada syarah empat ayat pembuka; bagian hadits menyusul pada pertemuan berikutnya.
03.01 — QS. Al-Hajj 30: Mengagungkan Kehormatan (Hurumāt) Allah
"Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah (hurumāt-Nya), maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya."
QS. Al-Hajj: 30
Penjelasan
Imam an-Nawawi membuka Bab 03 dengan ayat ini. Hurumāt Allah adalah segala sesuatu yang Allah beri kehormatan dan perintahkan untuk dihormati. Menurut Mujahid dan Ibnu Zaid (dinukil Ibnu Katsir): Makkah, haji, umrah, dan seluruh yang Allah haramkan. Imam as-Sa'di meringkas: "كل ما له حرمة وأمر باحترامه" — setiap yang memiliki kehormatan dan diperintahkan untuk dihormati (seluruh manasik, tanah haram, ihram, hewan kurban, dan ibadah-ibadah wajib).
"Mengagungkan" di sini bermakna: menjauhi pelanggarannya, dan memandang pelanggaran itu sebagai perkara yang besar di dalam hati — bukan remeh. Ibnu Katsir: "ويكون ارتكابها عظيماً في نفسه". Balasannya, kata Ibnu Katsir: "خير كثير وثواب جزيل" — kebaikan yang banyak dan pahala yang besar; dan kata as-Sa'di: "خيراً له في دينه ودنياه وأخراه".
Ucapan Imam as-Sa'di
Mengagungkan hurumāt Allah termasuk "الأمور المحبوبة لله المقربة إليه" — perkara yang dicintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Kaitan dengan Ahlul Qur'anAn-Nawawi memasukkan ahlul Qur'an ke dalam keumuman "hurumāt Allah": mereka mengemban Kitab Allah, sehingga kehormatan mereka termasuk kehormatan yang Allah perintahkan untuk dijaga. Meremehkan pengemban Al-Qur'an berarti meremehkan sesuatu yang Allah agungkan.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Tidak menganggap remeh dosa kecil — "ah cuma sebentar", "kan cuma bercanda". Hurumāt dijaga dengan cara memandangnya besar.
Memuliakan mushaf: tidak meletakkannya di lantai atau di bawah barang lain, tidak menyentuh tanpa wudhu, tidak membawanya ke tempat yang kotor.
Tidak menjadikan yang Allah agungkan sebagai bahan candaan: Al-Qur'an, masjid, adzan, bulan Ramadhan, syariat.
Menghormati waktu dan tempat yang Allah muliakan — segera menyambut waktu shalat, menjaga adab di masjid dan di tanah haram.
Contoh dalam Halaqah & KBM
Halaqah Al-Qur'an adalah majelis yang terhormat: hadir tepat waktu, tidak bercanda keras atau sibuk dengan HP saat ada yang sedang tilawah.
Adab terhadap mushaf di kelas: tidak melangkahinya, tidak menumpuknya dengan buku lain, meletakkannya di tempat yang tinggi dan bersih.
Memandang kesalahan tajwid dan makhraj sebagai perkara serius — bukan "salah sedikit tidak apa-apa" — karena yang dibaca adalah Kalāmullāh.
Guru dan murid sama-sama menjaga kesucian majelis: berwudhu, berpakaian rapi, meluruskan niat, membuka dengan basmalah dan doa.
Di Halaqah Tahsin Rattil
Memandang bacaan yang belum tepat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki — bukan "yang penting sudah bisa baca". Ketepatan bacaan adalah bagian dari mengagungkan firman Allah.
Tidak menyepelekan talaqqi — belajar langsung dari guru dari mulut ke mulut; aplikasi dan video hanya alat bantu, bukan pengganti.
Sabar mengulang satu huruf atau satu ayat puluhan kali — pengulangan itu ibadah, bukan beban, karena yang diulang adalah Kalāmullāh.
Tidak menjadikan kesalahan bacaan (lahn) — milik sendiri atau teman — sebagai bahan tertawaan. Lahn diperbaiki dengan serius, bukan ditertawakan.
Saya memandang setiap yang Allah muliakan — Al-Qur'an, mushaf, majelisnya, dan para pengembannya — sebagai kehormatan yang besar, bukan perkara remeh.
03.02 — QS. Al-Hajj 32: Ahlul Qur'an, Syiar Allah yang Hidup
"Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu (timbul) dari ketakwaan hati."
QS. Al-Hajj: 32
Penjelasan
Sya'ā'ir Allah — kata as-Sa'di — adalah "أعلام الدين الظاهرة": tanda-tanda agama yang tampak. Ibnu Katsir memaknainya "أوامره" (perintah-perintah Allah), termasuk mengagungkan hewan kurban. Ibnu Umar berkata: "أعظم الشعائر البيت" (syiar terbesar adalah Ka'bah). As-Sa'di menegaskan cakupannya luas — bukan hanya ritual haji, tetapi ekspresi lahiriah agama secara umum.
Inti ayat: mengagungkan syiar-syiar itu "صادر من تقوى القلوب" — lahir dari takwa yang ada di hati. Maka cara seseorang memperlakukan syiar Allah adalah cermin takwa hatinya.
Inti Bab 03: Ahlul Qur'an adalah "A'lām ad-Dīn" yang HidupPara hafizh, guru, dan penuntut Al-Qur'an adalah syiar Islam yang berjalan — mereka membawa Kitab Allah di dada mereka. Memuliakan mereka termasuk mengagungkan syiar Allah, dan itu tanda takwa hati. Sebaliknya, meremehkan mereka menunjukkan ada yang kurang di dalam hati.
"Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang tua muslim, pengemban Al-Qur'an yang tidak berlebihan (ghulū) padanya dan tidak menjauh darinya, serta memuliakan penguasa yang adil." — Nabi ﷺ mengaitkan langsung memuliakan hāmilul Qur'an dengan ijlālullāh (pengagungan kepada Allah).
HR. Abu Dawud no. 4843 (hasan) · dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — akan dibahas lengkap di bagian hadits
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Mendahulukan seorang hafizh untuk mengimami shalat, memimpin doa, atau membuka acara.
Memberi tempat duduk terbaik, menyambut dengan hormat, berdiri menyambut guru Al-Qur'an.
Berbicara tentang para guru dan hafizh dengan bahasa yang santun; membela kehormatan mereka ketika dijelekkan.
Masyarakat yang memuliakan lembaga Qur'annya: memberi gaji yang layak untuk ustadz, tidak memandang TPQ/madrasah sebagai "kelas dua".
Menuntut ilmu bukan untuk merendahkan orang lain — dan tidak merendahkan yang belum hafal.
Contoh dalam Halaqah & KBM
Adab murid kepada guru: tidak berjalan mendahului, tidak meninggikan suara di atas suara guru, memanggil dengan sebutan hormat (Ustadz/Ustadzah), tidak mengoreksi guru dengan kasar di depan orang lain.
Murid yang lebih senior memuliakan murid atau guru yang lebih dahulu hafal; membawakan kitab atau keperluan guru.
Lembaga memuliakan para muhaffizh-nya: jasa mereka diakui, nama mereka disebut dengan hormat, kesejahteraan diperhatikan.
Menjaga syiar halaqah: lingkaran ngaji, sanad dan ijazah, wisuda tahfizh — diperlakukan sebagai sesuatu yang mulia, bukan seremoni biasa.
Di Halaqah Tahsin Rattil
Memuliakan guru tahsin meskipun "hanya" mengajarkan makhraj dan tajwid dasar — beliau tetap pembawa Kalāmullāh dan penyambung sanad. Jangan meremehkan "cuma guru tahsin".
Yang masih terbata-bata pun adalah penuntut Al-Qur'an — sedang berada di jalan ahlul Qur'an. Sebutan itu mencakup yang baru belajar makhraj, bukan hanya hafizh.
Tidak malu mengaji dari dasar meski sudah dewasa — justru itu syiar: menampakkan bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur'an mulia di segala usia.
Cara menerima koreksi guru adalah ukuran takwa: menerima dengan lapang dada dan ucapan "jazākallāhu khairan, Ustadz" — bukan tersinggung atau membela diri.
Tidak membanggakan diri karena lebih lancar dari teman selingkaran, dan tidak minder karena lebih lambat — masing-masing sedang berjalan menuju Allah.
Termometer TakwaAyat ini ditutup dengan "min taqwā al-qulūb". Maka cara kita memperlakukan guru Al-Qur'an kita adalah alat ukur kondisi hati kita. Hati yang bertakwa akan otomatis memuliakan orang yang membawakannya Kalāmullāh.
Saya memuliakan para guru, hafizh, dan penuntut Al-Qur'an sebagai syiar Allah yang hidup — dan saya jadikan sikap saya kepada mereka sebagai ukuran takwa hati.
03.03 — QS. Al-Hijr 88: "Rendahkanlah Sayapmu kepada Kaum Mukmin"
Matan At-Tibyan — Ayat 3
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Dan rendahkanlah sayapmu (berlemah-lembutlah) terhadap orang-orang yang beriman."
QS. Al-Hijr: 88
Penjelasan
Catatan: sebagian edisi At-Tibyan mencantumkan ayat yang semakna, QS. Asy-Syu'ara: 215 — «وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ». Maknanya sama.
"Khafdhul janāh" (merendahkan sayap) adalah kiasan. Gambarannya: induk burung yang merendahkan sayapnya untuk menaungi dan melindungi anak-anaknya dengan kasih sayang. Maka maknanya: kelembutan, kasih sayang, perlindungan, dan ketiadaan kesombongan. Imam as-Sa'di: "ألِن لهم جانبك وحسِّن لهم خُلُقَك محبةً وإكراماً وتودُّداً" — lembutkan sikapmu kepada mereka dan perbaiki akhlakmu terhadap mereka dengan cinta, penghormatan, dan kasih sayang. Al-Qurthubi: "ألن جانبك لمن آمن بك وتواضع لهم".
Arah Ayat Ini BerbedaAyat 30 dan 32 memerintah umat memuliakan ahlul Qur'an. Ayat ini memerintah yang berada di posisi atas — Nabi ﷺ, dan setelahnya para guru, ulama, dan senior — untuk berlemah lembut dan merendah kepada kaum mukmin. Jadi ikrām itu dua arah: umat memuliakan ahlul Qur'an, dan ahlul Qur'an — terutama para guru — "merendahkan sayap" kepada murid dan umat. Kemuliaan sejati seorang hāmilul Qur'an justru tampak pada tawadhu'-nya.
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Seorang hafizh yang tidak memandang rendah yang belum hafal; ulama yang mudah didekati dan tidak angkuh.
Tidak menggunakan ilmu atau hafalan untuk mempermalukan orang lain atau merasa lebih tinggi.
Menyapa lebih dahulu, tersenyum, mendengarkan orang awam dengan sabar.
Orang tua dan pemimpin yang "menaungi" — melindungi, memaafkan, dan tidak keras kepada yang di bawahnya.
Contoh dalam Halaqah & KBM
Adab guru kepada murid: sabar terhadap murid yang lambat, tidak mempermalukan murid yang salah berulang kali, mengoreksi dengan lembut, dan memberi kata-kata yang menyemangati.
Tidak pilih kasih; hadir dan mudah dihubungi; memanggil murid dengan panggilan yang ia sukai.
Guru "menaungi" halaqah seperti induk burung menaungi anaknya — melindungi nama baik murid, mendoakan mereka, dan ikut senang atas kemajuan mereka.
Murid yang lebih senior kepada yang lebih baru: membimbing, bukan menggertak; sabar mengulang bacaan.
Di Halaqah Tahsin Rattil
Guru tahsin "merendahkan sayap": tidak bosan mengoreksi huruf yang sama untuk kesekian kalinya, tidak menghela napas atau memutar mata saat murid salah lagi, tidak berkata "kok segini saja tidak bisa".
Mengoreksi sambil menjaga harga diri murid — terlebih murid dewasa: "coba sekali lagi, Pak, lidahnya sedikit lebih ke depan", bukan sekadar "salah, ulangi".
Mengapresiasi kemajuan sekecil apa pun: "nah, ḍād-nya sudah mulai tebal" — semangat tumbuh dari pengakuan, bukan dari tekanan.
Menyesuaikan target dengan kemampuan tiap murid; tidak menyamakan ritme yang baru mengenal huruf dengan yang sudah lancar.
Murid yang lebih lancar menyimak (tasmī') teman yang lebih lambat dengan sabar — membimbing, bukan menggurui apalagi menggertak.
Lembut pada orangnya, tegas pada standar: bacaan yang masih keliru tidak "diloloskan", tetapi disampaikan dengan cara yang menumbuhkan semangat.
Lembut Bukan Berarti Tanpa KetegasanMerendahkan sayap bukan berarti membiarkan tanpa disiplin. Induk burung menaungi sekaligus mendidik anaknya terbang. Kelembutan guru berpadu dengan ketegasan yang mendidik — keduanya lahir dari kasih sayang, bukan dari amarah.
Jika saya mengemban Al-Qur'an, saya tidak menjadikannya alasan untuk sombong — saya "merendahkan sayap": lembut, mengayomi, dan tawadhu' kepada murid, teman, dan umat.
03.04 — QS. Al-Ahzab 58: Larangan Menyakiti Kaum Mukmin
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan (buhtān) dan dosa yang nyata."
QS. Al-Ahzab: 58
Penjelasan
Setelah tiga ayat tentang memuliakan, An-Nawawi menutup pembuka Bab 03 dengan ayat larangan menyakiti. "Yu'dzūna" (menyakiti) mencakup gangguan dengan lisan maupun perbuatan. "Bighairi mā aktasabū" — kata as-Sa'di: "بغير جناية منهم موجبة للأذى" — tanpa kesalahan dari mereka yang membuat mereka pantas disakiti.
"Buhtān" — kata Ibnu Katsir: "ينسبون إليهم ما هم برآء منه" — menisbatkan kepada mereka apa yang mereka tidak melakukannya; menuduh dusta. "Itsm mubīn" adalah dosa yang terang-terangan. As-Sa'di: mereka "انتهكوا حرمة أمر اللّه باحترامها" — telah melanggar kehormatan yang Allah perintahkan untuk dijaga.
"Sesungguhnya riba yang paling berat di sisi Allah adalah menghalalkan (merusak) kehormatan seorang muslim." — lalu 'Aisyah membaca ayat Al-Ahzab: 58.
Dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Ahzab: 58 · dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha
Kaitan dengan Bab 03Jika menyakiti mukmin biasa saja demikian beratnya, maka menyakiti ahlul Qur'an — guru, hafizh, ulama — lebih berat lagi. An-Nawawi kemudian menukil ucapan al-Hafizh Ibnu 'Asakir: "لُحُومُ الْعُلَمَاءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادَةُ اللهِ فِي هَتْكِ أَسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ" — "Daging para ulama itu beracun, dan sudah menjadi kebiasaan (sunnatullah) menyingkap aib orang yang merendahkan mereka. Barangsiapa melepaskan lisannya mencela para ulama, Allah timpakan kepadanya sebelum kematiannya kematian hati."
Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Ghibah, tuhmah, dan fitnah terhadap seorang ustadz atau hafizh — terlebih buhtān (menuduhnya melakukan yang tidak ia lakukan).
Menyebarkan berita atau hoax tentang guru di grup WhatsApp tanpa tabayyun; men-screenshot lalu mengolok di media sosial.
Mengungkit kesalahan lama seseorang untuk menjatuhkannya. "Bighairi mā aktasabū" — bahkan bila ia pernah salah, responsnya harus adil, bukan fitnah.
Menghina fisik, keluarga, atau latar belakang seorang penuntut atau pengajar Al-Qur'an.
Contoh dalam Halaqah & KBM
Murid yang menjelek-jelekkan guru kepada murid lain atau kepada orang tua.
Murid yang membully teman yang bacaannya belum lancar atau susah menghafal ("kamu kok gitu-gitu aja") — itu menyakiti seorang mukmin.
Orang tua yang menyebar cerita buruk tentang ustadz di grup wali murid tanpa klarifikasi.
Guru yang mempermalukan murid di depan umum — ini pun termasuk "menyakiti mukmin"; membanding-bandingkan murid untuk merendahkan.
Alumni yang, setelah lulus, justru mencela guru yang dahulu mengajarinya Al-Qur'an.
Di Halaqah Tahsin Rattil
Tidak menyindir atau menirukan kesalahan bacaan teman selingkaran untuk lucu-lucuan, dan tidak bercerita "bacaan si fulan parah" kepada orang lain.
Tidak menggerutu "gurunya terlalu cerewet / terlalu detail" kepada murid lain atau kepada wali; tidak membanding-bandingkan dengan guru lain secara merendahkan.
Guru: tidak menyebut kekurangan bacaan seorang murid di depan yang lain, tidak menjadikannya "contoh yang salah" dengan menyebut nama, tidak menyindir.
Menjaga apa yang terjadi di lingkaran tahsin — kesalahan, air mata, kesulitan seseorang — tidak diceritakan ke luar halaqah.
Tidak berkata kepada yang masih bertahan belajar: "ngapain masih ngaji, dari dulu gitu-gitu saja" — itu melukai seorang mukmin yang sedang berjuang di jalan Al-Qur'an.
Lisan yang SamaLisan yang membaca Al-Qur'an — bagaimana mungkin ia juga menjadi lisan yang melukai orang yang mengajarkan Al-Qur'an itu? Guru Al-Qur'an memberimu harta yang akan memberi syafaat di hari kiamat. Menyakitinya adalah salah satu bentuk kufur nikmat yang paling nyata.
Saya menjaga lisan dan jari saya dari menyakiti sesama mukmin — terlebih para guru dan penuntut Al-Qur'an — dengan ghibah, tuduhan, atau ejekan; dan saya bertabayyun sebelum menyebarkan.
BersambungEmpat ayat pembuka Bab 03 selesai dibahas. Bagian hadits Bab 03 — hadits Abu Musa (ijlālullāh), 'Aisyah (menempatkan orang pada kedudukannya), Jabir (mendahulukan hafizh di liang lahad), Abu Hurairah (hadits qudsi «مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا»), serta ucapan Imam Abu Hanifah, asy-Syafi'i, dan Ibnu 'Asakir — insyaAllah menyusul pada pertemuan berikutnya.
Rujukan & Verifikasi
Matan bab: Imam an-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, Bab 03 — teks diperiksa di المكتبة الإسلامية islamweb.net.